Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Maret 2016

Mengharap Suami yang Ideal


Bagaimana mungkin kita menuntut suami agar menjadi suami yang ideal; menuntut ini dan itu, sementara kita tidak mau berusaha memperbaiki diri



Saudariku, para istri yang mulia. Bagaimana mungkin kita menuntut suami agar menjadi suami yang ideal; menuntut ini dan itu, sementara kita tidak mau berusaha memperbaiki diri? Kerap kali seorang wanita hanya pandai menuntut dan merasa tidak puas tanpa mau memandang permasalahan secara bijak.

Untuk menyikapi permasalahan ini secara lebih jelas, ada baiknya kami paparkan beberapa contoh kasus berikut ini:

Kasus Pertama

 Seorang istri mengeluhkan suaminya karena tidak pernah kerasan tinggal di rumah. Ada saja alasan yang ia kemukakan untuk dapat segera meninggalkan rumah. Ia pergi sejak pagi-pagi buta dan baru kembali menjelang malam. Ia pun terus-menerus mengajukan protes dan menuntut  suaminya agar betah tinggal di rumah.

Namun sayangnya, sang istri tidak memandang akar permasalahan secara bijak, mengapa suaminya tidak kerasan tinggal di rumah?

Ternyata semua itu berpangkal dari kelalaian istri itu sendiri. Pasalnya, ia adalah seorang istri yang awut-awutan dan berantakan; sama sekali tidak pandai menciptakan suasana rumah yang nyaman. Hampir semua sudut rumah berantakan, ditambah lagi dengan kondisi anak-anaknya yang tak sedap dipandang mata. Ia juga tak pandai menjaga penampilan di hadapan suaminya, tidak terampil mengurus rumah tangga dan selalu menyuguhi suami dengan berbagai masalah dan keluhan. Jika demikian keadaannya, patutkah ia menuntut suami agar betah tinggal di rumah?

Kasus Kedua

Seorang istri mengeluhkan suaminya yang tidak suka makan di rumah, dan lebih senang jajan di luar. Ia segera melontari suami dengan kata-kata yang pedas, seolah-olah tidak menghargai jerih payahnya dan lain sebagainya. Ia menuntut suaminya agar makan di rumah tanpa melihat apa sebenarnya yang menyebabkan suaminya lebih suka makan di luar. Padahal, kenyataannya ia adalah seorang istri yang tidak terampil memasak dan tidak juga mau belajar memasak. Bagaimanakah mungkin ia bisa menuntut suaminya agar puas makan di rumah?

Kasus Ketiga

Seorang istri mengeluhkan suaminya yang lemah dan sering sakit-sakitan. Ia pun merasa kesal mengapa suaminya tidak bisa bugar seperti kondisi suami-suami lainnya. Namun ia sama sekali tidak menyadari bahwa ternyata dirinya adalah seorang istri yang tidak pandai merawat dan mengurus suami. Jika demikian kondisinya, tepatkah sikap mengeluh yang ditunjukkan itu?

Saudariku, itu hanyalah beberapa contoh kasus yang bisa kita jadikan pelajaran. Pada prinsipnya, bagaimana mungkin seorang menuntut hak apabila kewajiban dilalaikan ?. Bagaimana mungkin seorang istri menuntut suami yang shalih sementara kita tidak berusaha menjadi istri shalihah ?. Patutkah kita memimpikan suami kita menjadi suami idaman sementara kita bukan tipe istri idaman ?.

Ada kaidah yang sudah dimaklumi bersama, bahwa di alam ini selalu ada aksi dan rekasi. Reaksi yang timbul sangat bergantung pada aksi. Apabila aksi baik, biasanya reaksi yang timbul juga baik. Sebaliknya, apabila aksi yang ditampilkan tidak baik, reaksinya pun tidak akan baik. Sungguh benarlah firman Allah Jalla Jalaaluhu:

هَلْ جَزَآءُ الإِحْسَانِ إِلاَّ الإِحْسَان

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)

Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa mengatakan hal yang tidak-tidak tentang suami sebelum kita melihat bagaimana sebenarnya keadaan dan sikap kita sendiri. Sebab, bisa jadi sikap suami yang tidak mengenakkan hati itu hanyalah sebuah rekasi dari sikap dan perilaku kita sendiri.



————————————————————————–

Diketik ulang dari buku “Surat Terbuka untuk Para Istri” karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al-Atsari

Senin, 29 Februari 2016

Wanita yang Berkah, Kamukah Itu?

Keberadaan istri terkadang menjadi sumber keberkahan bagi seorang lelaki. Karena lelaki yang menjadi suami, dia harus menanggung nafkah istri dan anaknya



Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Diantara janji Allah bagi orang yang menikah, Allah janjikan kecukupan untuk mereka,
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Kawinkanlah orang-orang yang masih lajang diantara kalian, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari budak-budak lelaki dan budak-budak perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya”. (QS. an-Nur: 32).
Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ
Ada 3 orang yang dijamin oleh Allah untuk membantunya: Mujahid fi sabilillah, orang yang menikah karena menjaga kehormatan dirinya, dan budak yang hendak menebus dirinya untuk merdeka.” (HR. Nasa’I no. 3133, Turmudzi no. 1756 dan dihasankan al-Albani).
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan,
رغبهم الله في التزويج، وأمر به الأحرار والعبيد، ووعدهم عليه الغنى
Allah memotivasi hambanya untuk menikah, sebagai perintah yang ditujukan untk orang merdeka maupun budak. Dan Allah menjanjikan kepada mereka kecukupan”. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/51)
Demikian pula dinyatakan dalam keterangan Ibnu Mas’ud,
التمسوا الغنى في النكاح
“Carilah kekayaan dalam pernikahan”. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/51).

Wanita yang Berkah

Karena itu, keberadaan istri terkadang menjadi sumber keberkahan bagi seorang lelaki. Karena lelaki yang menjadi suami, dia harus menanggung nafkah istri dan anaknya. Sehingga jalur rizki mereka melalui suami yang menjadi sumber nafkah bagi keluarganya.
Syaikh Muhammad Mukhtar as-Syinqithi mengatakan,
أن بعض النساء المباركة …بعض النساء المباركة إذا تزوج الانسان بورك له في ماله وبورك له في رزقه وبورك له في كسبه
“Sebagian wanita itu berkah.. wanita yang berkah, ketika dinikahi lelaki, maka hartanya diberkahi, rizkinya diberkahi, dan pekerjaannya diberkahi.” (Rekaman Liqa’ Maftuh)
Kemudian beliau membawakan atsar dari A’isyah radhiyallahu ‘anha yang mengatakan,
تزوجوا النساء يأتينكم بالأموال
“Nikahilah wanita, karena akan mendatangkan harta bagi kalian”. (HR. Hakim 2679 dan dinilai ad-Dzahabi sesuai syarat Bukhari dan Muslim).
Tentu saja ini tidak berlaku untuk semua wanita. Sebagaimana ada wanita yang mendatangkan kemudahan dan keberkahan bagi suami, ada juga wanita yang kondisinya sebaliknya, dia justru mendatangkan masalah bagi suaminya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan 3 sumber kebahagiaan manusia dan 3 sumber masalah bagi manusia.
Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أربع من السعادة : المرأة الصالحة والمسكن الواسع والجار الصالح والمركب الهنيء وأربع من الشقاوة : الجار السوء والمرأة السوء والمسكن الضيق والمركب السوء
“Ada 4 yang mendatangkan kebahagiaan: istri shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan ada 4 yang mendatangkan kesusahan: tetangga yang jahat, istri yang jahat, rumah yang sempit, dan kendaraan yan tidak nyaman dipakai.”(HR. Ibnu Hibban 4032 dan sanad dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Berlatihlah untuk menjadi wanita shalihah, agar anda menjadi wanita yang berkah.
Allahu a’lam
 —————————————————————————————————–
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits
Artikel www.muslimah.or.id

Minggu, 03 Januari 2016

Ada Pelangi di Matamu



Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu makhlukpun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.

Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, justru pendamping hidupnya seorang yang cenderung kasar, pemarah, dingin dan suka impromisasi lantas dengan kenyataan pahit itu, pantaskah pasutri berfikir negatif untuk segera mengakhiri fraghme kehidupan pernikahan?

Episode kehidupan Asma’ putri Abu Bakar As Sidiq dengan Zubair bin Awwam, kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.

Asma’ harus berjuang membawa air, merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah suami yang pencemburu. Dan kesabaran Asma’ telah membuat pelangi pernikahan mereka terlihat elegan dan membuat kagum orang-orang yang berharap kebahagiaan abadi di kampung akhirat.

Kisah cinta Abu Darda’ bersama istrinya terkasih Ummu Darda’ tak kalah romantis. Dengan bangga dia ungkapkan isi hatinya dengan mengatakan,

اللهم إن أبا الدرداء خطبني فتزوجني في الدنيا، اللهم فأنا أخطبه إليك، فأسألك أن تزوجنيه في الآخرة

“Ya Allah, Abu Darda telah melamarku dan menikahiku di dunia, karena itu ya Allah, aku melamar Abu Darda melalui Engkau. Aku memohon, agar Engkau menikahkanku dengannya di akhirat.”

Masya Allah.. istri yang cerdas dan salihah yang kata-katanya senantiasa membuat suami surprise dan bahagia.

Anda berhasrat mengikuti jejak cinta kasih mereka dan bercita-cita membangun istana cinta bersama pasangan sejati anda? Simak tips dan kiat singkat di bawah ini,

Mengubah Hidup dengan Mengubah Kata-Kata

Tak jarang konflik berawal dari tak adanya komunikasi yang harmonis di antara pasutri. Ketika emosi tak terkontrol dan pasangan mulai berkata kasar dan lepas kontrol, saat itulah anda harus menata hati. Jangan terpancing melontarkan ucapan negatif. Biarlah dia mengeluarkan segala perasaannya dan anda tetap berkata dan bersikap positif. Kunci utama anda bertahan dengan memperbanyak kata maaf, terima kasih dan selalu berempati padanya. Dengan memperbanyak kata-kata positif dan mengandung optimis niscaya pasangan kita akan terpengaruh dan lambat laun diapun akan terbiasa berfikir dan berkata positif.

Fokus pada Kelebihan Pasangan

Bersikaplah realistis, pasangan kita bukanlah sosok malaikat tanpa cela, dia tidak juga bidadari tanpa dosa. Ketika anda fokus pada kelebihan yang ada pada pasangan niscaya kekurangannya akan nampak kecil. Seperti karakter pasangan kita sabar dan penuh pengertian namun ia tak mahir berolah kata yang indah bak pujangga.

Maka kita ingatkan dan kita suport dia agar menjadi pribadi yang lebih sabar dan jangan terlalu memaksanya utnuk selalu memuji anda dengan untaian kata cinta penuh bunga, karena dia memang tak bisa mengekspresikan perasaan sayangnya dengan ungkapan mesra. Pahamilah kelebihan dan kekurangannya apa adanya, jangan terlalu ekstrem, toh tak ada orang yang sempurna.

Jangan Suka Membandingkan.

Ketika pasangan kita berkarakter temperamental tak suka basa-basi dan to the poin, lantas anda melihat pasangan lain begitu romantis, supel, lembut dan bijaksana, seketika itu terbesit di benak anda harapan agar pasangan kita seperti si dia. Jangan sekali-kali membandingkan kelemahan pasangan karena hal itu justru bisa membuat anda stress dan frustasi.

Solusinya berpikirlah jernih, membandingkan pasangan dengan pasangan lainnya justru bisa membuat dia tersinggung dan sakit hati. Saatnya berdua instropeksi diri bersama-sama berdiskusi, saling mencari peluang dan bekerja sama menjadi pasutri yang baik.

Badai akan Berlalu

Perselisihan atau perbedaan pandangan kecil adalah bumbu penyedap sebuah pernikahan, benarkah? Namun orang lain berkomentar perselisihan merupakan pintu awal sebuah perceraian.

Sedahsyat apapun problema keluarga ketika pasutri masih memiliki perasaan cinta, niscaya rumah tangga akan damai. Selain itu kecintaan dan keimanan pada Allah adalah benteng kokoh yang melindungi pasutri agar tak mudah melontarkan kata-kata cerai. Saatnya mencari solusi bukan mempertajam konflik. Bukankah setelah badai matahari akan bersinar, Insya Allah.

Bagai Mengukir di atas Batu

Sering disakiti pasangan, hobi mengkritik, tak suka memuji, jangan ambil pusing. Tulislah sikap negatif itu di atas air sehingga anda akan mudah melupakanya. Namun ketika dia berbuat sesuatu yang membahagiakan maka segera ukirlah kebaikannya di atas batu hingga tetap berbekas anda selalu mengingatnya. Seorang istri hendaknya selalu bersyukur pada suaminya agar kehidupan pernikahannya abadi. Sang suami juga hendaklah menekan semaksimal mungkin sikap egoisnya agar banyak kebaikan dan keindahan yang mampu diukir di hatinya hingga ajal memisahkan mereka bedua.

Sembari menggandeng pasangan tak ada salahnya anda berdua menikmati indahnya pelangi. Katakan padanya “di matamu kulihat pelangi, engkaulah pelangi cinta di hatiku”.



————————————————————————————

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Muroja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits