Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2016

Adakah Kita Tergesa-gesa dalam Berdo’a ?


Pernahkah kita berulang kali berdo’a namun tak juga Allah kabulkan? Sudah berusaha semaksimal yang kita bisa namun apa yang kita pinta tak juga Allah berikan ?


Pernahkah kita berulang kali berdo’a namun tak juga Allah kabulkan? Sudah berusaha semaksimal yang kita bisa namun apa yang kita pinta tak juga Allah berikan ? Mungkin sebagian kita pernah berkata, “Aku sudah berdo’a kepada Allah tapi kenapa Allah tak juga mengabulkan do’aku..” ?

Perkataan ini akan keluar dari seseorang yang lemah hatinya dan dia tidak yakin sepenuhnya kepada Allah.

Bukankah kita sering membaca firman Nya,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdo’a kepada Ku.” (QS Al Baqarah 186)

Renungkanlah!

Allah Ta’ala sendiri yang berfirman bahwa Allah akan mengabulkan do’a hamba-Nya yang berdo’a kepada Nya. Do’a kita pasti akan dikabulkan, selama do’a itu bukan berupa keburukan atau memutus hubungan silaturahim. Entah di dunia ataupun di akhirat, do’a kita pasti akan dikabulkan. Kita tidak tahu, sedangkan Allah selalu tahu yang terbaik untuk kita.

Akan tetapi di sana ada penghalang-penghalang do’a yang menyebabkan do’a kita tidak juga dikabulkan. Salah satu penghalang tersebut adalah tergesa-gesa dalam berdo’a.

Bagaimana seseorang bisa disebut tergesa-gesa dalam berdo’a?

Dia putus asa dalam berdoa, sampai mengatakan, “Kenapa do’aku tidak juga Allah kabulkan ? Padahal aku sudah berulang-ulang berdo’a kepada Allah”, atau perkataan semisalnya yang maknanya sama. Kemudian dia meninggalkan do’a tersebut. Seakan-akan dia protes kepada Allah, kemudian dia berprasangka buruk kepada Allah.

Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda:

لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الاِسْتِعْجَالُ قَالَ: يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِى فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

“Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan, selama dia berdo’a bukan untuk keburukan atau memutus tali silaturahim dan selama dia tidak tergesa-gesa dalam berdo’a. Kemudian seseorang bertanya, ‘Ya Rasulallah, apa yang dimaksud tergesa-gesa dalam berdo’a ?’. Kemudian Rasulullah menjawab, yaitu seseorang yang berkata, ‘Sungguh aku telah berdo’a dan berdo’a, namun tak juga aku melihat do’aku dikabulkan’, lalu dia merasa jenuh dan meninggalkan do’a tersebut”. (HR Muslim)

Mungkin seringkali kita tidak menyadari bahwa kata-kata yang keluar dari lisan kita justru yang menghalangi terkabulnya do’a kita. Hal ini disebabkan karena lemahnya ilmu dan iman kita. Hanya kepada Allah kita memohon ampun.

Teruslah berdo’a, meski kita belum melihat do’a kita terkabulkan. Karena terkadang Allah mengabulkan do’a kita dengan sesuatu yang lain. Tidak selalu dengan apa yang kita pinta. Mungkin dengan bentuk yang lain, sesuatu yang menurut Allah lebih baik untuk kita dari pada do’a yang kita pinta, bisa juga berbentuk diampuninya dosa-dosa kita, atau naiknya derajat kita di sisi Allah. Atau karena Allah menyukai rintihan permohonan kita di waktu malam sehingga Allah menunda pengabulannya, atau mungkin Allah kabulkan do’a kita di akhirat. Allah yang Maha Tahu, sedangkan kita tidak tahu.

Tergesa-gesa dalam berdo’a hanyalah salah satu dari beberapa sebab yang dapat mencegah terkabulnya do’a. Penting bagi kita untuk mengetahui sebab-sebab yang mencegah terkabulnya do’a, agar kita dapat menghindarinya.

Wallahu a’lam.

 ———————————————————–

Penulis: Rizki Ratih MD

Marji’ : Ad Da’ Wa Dawa’, Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Maunya Tampil Seksi Ternyata …

Gaya berpakaian menggunakan celana ketat dan menempel erat di kulit ternyata berbahaya bagi kesehatan



Kaos pas badan ditambah dengan celana ketat sebatas pinggul –bukan pinggang, lho!– ditempelkan di tubuh. Pikirnya, dengan gaya hip kayak gini, gaul pun jadi lebih mudah. Sesuai namanya, hip dalam bahasa Inggris berarti pinggul, hip style ditandai dengan celana panjang ketat yang tak sepanjang biasanya. Jika celana panjang normal menempel di pinggang, model hipster nyangkut di pinggul. Kalau dipadukan dengan kaus pendek ketat, pemakainya jelas terlihat lebih seksi. Prinsip gaya ini memang untuk membuat tubuh pemakai lebih ramping dan seksi.

Mau tampil kayak gini? Sebentar, pikir dengan matang dulu. Selain perlu ditanyakan ke ustadz, mungkin kamu juga perlu tahu info kesehatan tentang gaya hip kayak gitu.

Parathesia

Baru-baru ini ada kabar tentang gaya hip ditinjau dari kesehatan dan yang menyampaikan adalah orang Barat sendiri. Begini, Dr. Malvincer Parmar dari Timmins & District Hospital, Ontario, Kanada, baru-baru ini menyatakan, celana ketat sepinggul berpeluang menimbulkan penyakit parathesia. Istilah parathesia sendiri, menurut Kamus Kedokteran Dorland, berarti perasaan sakit atau abnormal seperti kesemutan, rasa panas seperti terbakar dan sejenisnya.

Dalam tulisannya di Canadian Medical Association Journal, Parmar mengaku, setahun ini kedatangan cukup banyak pasien yang bisa dikategorikan sebagai korban parathesia. Dia sudah mengobati sedikitnya tiga wanita berusia 22-35 tahun yang mengeluhkan rasa panas dan gatal di sekitar paha. Gangguan saraf ringan itu terjadi lantaran mereka suka sekali memakai celana ketat sebatas pinggul, setidaknya dalam enam bulan terakhir.

Mereka mengalami gejala yang sama, gatal dan panas serta kulit di sekitar paha menjadi lunak,” kata Parmar. Parathesia gampang dikenali. Gejalanya adalah kesemutan dan lama-kelamaan berubah menjadi mati rasa. Kesemutan terjadi lantaran terganggunya saraf tepi. Umumnya karena tertekan, infeksi, maupun gangguan metabolisme.

Walaupun kerusakan syaraf itu tidak masuk kategori serius, hal itu cukup mengganggu aktivitas korbannya. Hasil penelitian Parmar menunjukkan, kelainan itu menjadi permanen selama celana ketat sepinggul melilit di tubuh. Itu sebabnya Parmar menyarankan menjauhi segala macam pakaian ketat selama terapi.

Resep puasa seksi itu terbukti manjur. Setelah enam minggu mengubah gaya pakaian, pasien-pasien mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Namun, dia tidak bisa menjamin mereka ini tak akan mengalami gangguan serupa jika kembali tergoda ber-hip style.

Apa nasehat Parmar? “Saya sarankan, sebaiknya tinggalkan pakaian sepinggul. Pakailah yang longgar-longgar atau baju terusan saja,” sambung Parmar.



—————————————————————————————-

Diketik ulang dari majalah el-Fata edisi 12/111/2003 hal 60-61

Jumat, 01 Januari 2016

Bersyukur Atas Bertambahnya Usia


Ada suatu hari dimana seseorang bergembira atas bertambahnya usia. Memeriahkannya dengan pesta serta memanjatkan do’a. Hari yang pada tanggal dan bulan tersebut ia dilahirkan, itulah hari ulang tahun.
Perayaan ini tidak asing lagi bagi kita semua, sudah menjadi hal biasa dan wajar. Maka pertanyaannya, apakah yang biasa ini menjadi hal yang benar?

Kebiasaan Pertama

Seseorang menganggap ulang tahun sebagai momen untuk melakukan ritual syukuran serta dzikir dan do’a tertentu. Maka perlu diketahui bahwa amalan bersyukur, dzikir, dan do’a merupakan bentuk ibadah. Sedangkan ibadah pelaksanaannya wajib untuk mengikuti aturan dan ketentuan dari Allah serta Rasul-Nya Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dalam perayaan yang seperti ini dapat dikategorikan sebagai bid’ah. Karena hal tersebut merupakan perkara baru dan tidak ada asal usulnya dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang melakukan amal (ibadah) yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]

Selain itu, beliau Sallallahu ‘alaihi wa sallam juga berssabda:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Jauhilah perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap yang baru adalah perbuatan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan…” (HR.Abu daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Kebiasaan Kedua

Seseorang menganggap hari ulang tahun sebagai waktu bahagia yang perlu dirayakan. Sehingga dia merayakan hanya sekadar melakukan kegembiraan tanpa ada maksud untuk beribadah.
Perlu kita ketahui bahwa hari yang dirayakan secara berulang disebut Ied. Ied umat Islam adalah hari Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam saat memasuki kota Madinah yang pada saat itu terdapat dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang,
إِنَّ الله قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasaa`i, dishahihkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar).

Selain itu sahabat ‘Abdullah bin Zubair ketika pernah di masa beliau Idul Fitri jatuh pada hari Jum’at beliau mengatakan, “Dua hari raya dalam satu waktu” (HR. Abu Dawud, dinilai shahih Al Albani).
Maka menjadikan ulang tahun sebagai momen perayaan yang sebenarnya bukan termasuk hari raya (‘Ied) itu hakekatnya merupakan tindakan kelancangan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang tidak sepatutnya kita lakukan. Hari Ied umat Islam hanyalah tiga hari tersebut, yaitu hari Jumat, Idul Fitri, dan Idul Adha. Maka adanya perayaan selain ketiga hari raya tersebut bukanlah dari Islam. Padahal Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Orang yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut”
[HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Ibnu Hibban]

Maka orang yang merayakan Ied yang bukan Ied milik kaum Muslimin hakekatnya  ia bukan golongan kaum Muslimin dalam masalah itu. Namun hadits ini tentunya bukan berarti orang yang berbuat demikian pasti keluar dari statusnya sebagai Muslim, namun minimal mengurangi kadar keislaman pada dirinya, sesuai dengan bentuk peniruan (tasyabbuh)nya. Karena seorang Muslim yang sejati, tentu ia akan menjauhi hal tersebut.

Maka tidak perlu mengadakan perayaan khusus ketika ulang tahun. Hari ulang tahun tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa yang lain. Toh, penambahan usia tidak selalu menunggu tahun berikutnya. Setiap hari, setiap jam, dan setiap detik usia kita bertambah. Oleh karena itu ucapan syukur atas kesehatan, kehidupan, dan usia yang panjang tidak perlu menunggu hari khusus di setiap tahun. Karena nikmat itu senantiasa meliputi kita pada setiap hitungan detik sekalipun.

//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
Sumber:
http://muslim.or.id/3793-sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun.html
http://almanhaj.or.id/content/1584/slash/0/hukum-merayakan-ulang-tahun-anak/
http://buletin.muslim.or.id/fiqih/sunnah-sunnah-di-hari-jumat
Penulis: L. Fatiya S.
Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah
Sumber Artikel : Muslimah.Or.Id

Empat Kaidah Penting dalam Memahami Syirik dan Tauhid (Terjemah Al Qawaai’dul Arba’)


Aku memohon kepada Allah yang Mulia, Rabb pemilik ‘arsy yang agung. Semoga Allah menjadikanmu wali di dunia dan akhirat dan menjadikan engkau orang yang mendapatkan berkah di manapun engkau berada. Dan menjadikan engkau orang yang bila mendapatkan nikmat selalu bersyukur, jika mendapatkan musibah senantiasa bersabar, jika berbuat dosa segera beristighfar. Maka sesungguhnya ini adalah tiga sumber kebahagiaan.
Ketahuilah -semoga Allah senantiasa menunjuki Anda dalam ketaatan kepada-Nya- bahwasanya milah Ibrahim yang lurus adalah engkau menyembah Allah semata dengan ikhlas. Itulah perintah Alllah kepada seluruh manusia dan itu pula tujuan makhluk diciptakan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat :56).

Dan jika Engkau telah mengetahui bahwasannya Allah menciptakanmu untuk menyembah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwasannya ibadah itu tidaklah dinamakan ibadah kecuali disertai tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah dinamakan shalat kecuali disertai dengan thaharah. Jika syirik bercampur dalam ibadah, ia akan merusaknya. Sebagaimana hadats membatalkan thaharah.
Maka apabila engkau telah mengetahui, bahwasanya syirik bila bercampur didalam ibadah ia dapat merusak ibadah itu, membatalkan amalan dan menjadikan pelakunya kekal didalam neraka, engkau akan mengetahui pentingnya atas kalian untuk mengenal dan mengilmui perkara ini. Semoga Allah senantiasa melepaskan engkau dari jeratan itu, yaitu syirik kepada Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selainnya, bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. An-Nisaa ayat 48).

Dan memahami perkara ini (syirik), yaitu dengan mengetahui empat kaidah. Sesuai dengan yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya:

Kaidah Pertama

Hendaknya engkau mengetahui bahwasanya orang-orang kafir yang memerangi RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam mereka meyakini bahwasanya Allah Ta’ala lah pencipta dan pengatur alam semesta. Akan tetapi itu tidaklah menjadikan mereka Muslim. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah : “Siapakah yang memberi rejeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab “Allah”, maka katakanlah mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).” (QS. Yunus ayat 31)

Kaidah Kedua

Sesungguhnya mereka berkata: “kami menyembah mereka (tandingan-tandingan selain Allah) dan bersimpuh kepada mereka, adalah hanya untuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) dan meminta syafa’at”.
Dalil tentang qurbah, firman Allah Ta’ala:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“Ingatlah hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) “Kami tidaklah menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar ayat 3).

Dalil tentang syafa’at, firman Allah Ta’ala:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan dan mereka berkata “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami disisi Allah”” (QS. Yunus ayat 18)

Syafa’at itu dibagi dua macam, yaitu syafa’at manfiyah dan syafa’at mutsbatah :

1. Syafa’at manfiyah (yang tertolak) yaitu engkau meminta kepada selain Allah dalam perkara yang hanya Allah yang mampu melakukannya. Dalilnya firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (dijalan Allah) sebagian dari rejeki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari itu tidak ada lagi jual-beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Mereka itulah orang-orang yang dzalim”. (QS. Al Baqarah ayat 254).

2. Syafa’at mutsbatah (syafa’at yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta dari Allah dengan izin dari-Nya. Pemberi syafa’at adalah pihak yang dimuliakan dengan syafa’at dan yang diberi syafa’at adalah pihak yang Allah ridhai perkataannya dan perbuatannya, setelah adanya izin Allah. Dalilnya firman Allah Ta’ala:
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Siapakah yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin-Nya?” (QS. Al Baqarah ayat 255)

Kaidah Ketiga

Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wassallam hidup di tengah berbagai macam manusia dalam peribadatan mereka. Diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, ada yang menyembah pohon-pohon dan batu-batu, dan ada yang menyembah matahari dan bulan. Namun Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerangi mereka semua dan tidak membeda-bedakannya. Dalilnya firman AllahTa’ala:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) ketaatan itu semata-mata untuk Allah” (QS. Al Anfal: 39).

Dalil tentang penyembahan matahari dan bulan, firman Allah Ta’ala:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah, yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (QS. Al Fushilat ayat 37)

Dalil tentang penyembahan malaikat, firman Allah Ta’ala:
وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا
“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan” (QS. Ali Imran ayat 80).

Dalil tentang penyembahan para Nabi, firman Allah Ta’ala:
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman : “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia : “Jadikanlah aku dan ibuku, dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau mengetahui perkara-perkara yang ghaib” (QS. Al Maiadah ayat 116)

Dalil tentang penyembahan orang-orang shalih, firman Allah Ta’ala:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ
“Orang-orang (shalih) yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti” (QS. Al Isra: 57)

Dalil tentang penyembahan pohon dan batu, firman Allah Ta’ala:
أَفَرَأَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Latta dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah” (QS. An Najm ayat 19-20).

Dan hadits Abi Waaqid Al Laitsy,
خرجنا مع النبي صلى الله عليه وسلم إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط. فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط، كما لهم ذات أنواط
“Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menuju ke Hunain, ketika itu kami baru saja terbebas dari kekafiran. Kaum musyrikin memiliki pohon bidara yang mereka jadikan tempat i’tikaf, dan menggantungkan senjata mereka padanya. Pohon tersebut dinamakan “dzatu anwath”. Kemudian kami melalui sebatang pohon bidara, dan kami berkata “Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami “Dzatu Anwath” sebagaimana mereka memiliki Dzatu anwath”

Kaidah keempat

Bahwasanya orang-orang musyrik di zaman lebih parah perbuatan syiriknya dari kaum Musyrikin terdahulu. Dikarenakan mereka (kaum Musyrikin terdahulu) menyekutukan Allah dalam keadaan lapang, tetapi ikhlas kepada Allah dalam keadaan sempit. Sedangkan orang-orang musyrik di zaman sekarang menyekutukan Allah terus-menerus dalam keadaan lapang maupun sempit. Dalilnya firman Allah Ta’ala:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan ikhlas kepada-Nya; tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)“ (QS. Al Ankabuut ayat 65).
Selesai.
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam

///////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Penerjemah : Ummu Nadhifah Endang Sutanti
Sumber Artikel : Muslimah.Or.Id